Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi — Senin, 10 Agustus 2026.
Gerakan EcoMasjid MUI terus mendorong masjid agar tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi, pemberdayaan umat, ketahanan pangan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satu praktik nyata tersebut dikembangkan di Masjid Baitul Makmur, Perumahan Telaga Sakinah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, yang menjadi salah satu masjid binaan dalam gerakan EcoMasjid MUI.

Melalui pemanfaatan halaman masjid, Masjid Baitul Makmur mulai mengembangkan budidaya ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) sebagai bagian dari upaya mengintegrasikan pengelolaan sampah organik dengan program ketahanan pangan jamaah.

Dari Sampah Menjadi Pangan

Budidaya ayam di lingkungan masjid menjadi salah satu bentuk sederhana dari penerapan ekonomi sirkular. Sisa makanan dari dapur yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari sumber pakan ayam, bersama dengan maggot.

Dengan pendekatan tersebut, sisa makanan tidak langsung berakhir sebagai limbah, tetapi masuk kembali ke dalam sebuah siklus pemanfaatan.

Ayam berperan membantu mengurangi volume sampah organik, sementara dari proses budidaya tersebut dihasilkan telur yang dapat menjadi sumber pangan dan protein bagi jamaah.

Tidak berhenti pada telur, kotoran ayam juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pupuk organik untuk mendukung penghijauan dan budidaya tanaman di lingkungan masjid.

Dengan demikian, tercipta sebuah siklus sederhana:

Sisa makanan → pakan ayam → telur → pangan jamaah → kotoran ayam → pupuk → tanaman → kembali mendukung ekosistem masjid.

Model seperti ini sejalan dengan semangat EcoMasjid MUI yang mendorong pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi jamaah, termasuk pengurangan dan pengelolaan sampah serta penguatan ketahanan pangan.

Uji Coba Perdana dengan 7 Ayam KUB

Sebagai tahap awal, Masjid Baitul Makmur menempatkan 7 ekor ayam betina jenis KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) di kandang yang diberi nama Kandang Kukuruyuk.

Ayam KUB tersebut mulai memasuki usia produktif pada kisaran 5–6 bulan. Dalam uji coba awal ini, tujuh ekor ayam mampu menghasilkan sekitar 100 butir telur per bulan, atau rata-rata 3–4 butir telur per hari.

Meskipun masih dalam skala kecil, kegiatan ini menunjukkan bahwa halaman masjid dapat dimanfaatkan menjadi ruang produktif yang memberikan manfaat ekologis sekaligus manfaat ekonomi dan pangan bagi jamaah.

Masjid sebagai Pusat Ekonomi Sirkular Umat

Program ini memperlihatkan bahwa konsep masjid ramah lingkungan dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sampah makanan yang selama ini dianggap sebagai persoalan dapat dilihat sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik dapat masuk ke dalam rantai produksi pangan dan pertanian.

Konsep tersebut juga memperkuat posisi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat. Jamaah tidak hanya diajak untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga belajar bagaimana mengelola sumber daya secara bijak, mengurangi sampah, menghasilkan pangan, dan membangun kemandirian.

Inilah semangat yang ingin dikembangkan melalui EcoMasjid MUI: langkah kecil dari masjid, dengan dampak besar bagi bumi dan kehidupan umat.

Masjid Baitul Makmur sebagai Laboratorium EcoMasjid

Masjid Baitul Makmur Telaga Sakinah memiliki posisi strategis sebagai contoh praktik Masjid Ramah Lingkungan. Pengembangan budidaya ayam ini dapat menjadi bagian dari ekosistem EcoMasjid yang mengintegrasikan berbagai kegiatan lingkungan dan pemberdayaan, mulai dari pengelolaan sampah, penghijauan, pemanfaatan limbah organik hingga ketahanan pangan.

Ke depan, model ini berpotensi dikembangkan menjadi sistem yang lebih terpadu dengan melibatkan jamaah, anak-anak, pemuda masjid, kelompok ibu-ibu, dan komunitas lingkungan.

Dengan demikian, masjid tidak hanya mengajarkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan melalui ceramah, tetapi juga menghadirkan contoh nyata yang dapat dilihat, dipelajari, dan dipraktikkan langsung oleh jamaah.

Dari Masjid Kita Bangkit, Bersama Umat Kita Makmur

Budidaya ayam KUB di Masjid Baitul Makmur mungkin dimulai hanya dengan tujuh ekor ayam. Namun, nilai yang dibangun jauh lebih besar daripada jumlah produksinya.

Ada pesan penting bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari halaman masjid. Mengurangi sampah dapat dimulai dari dapur masjid. Ketahanan pangan dapat dimulai dari kandang sederhana. Dan pemberdayaan umat dapat dimulai dari kegiatan yang dilakukan bersama.

Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan EcoMasjid MUI bersama Masjid Baitul Makmur Telaga Sakinah dalam membangun masjid yang peduli lingkungan, produktif, mandiri, dan memberi manfaat nyata bagi umat.

Dari Masjid Kita Bangkit,
Bersama Umat Kita Makmur.

EcoMasjid MUI – Masjid Baitul Makmur Telaga Sakinah
Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi
Senin, 10 Agustus 2026

Leave a Comment